Shema

שׁמע ישׂראל יהוה אלהינו יהוה אחד
Shema Yisrael, Adonai Eloheinu Adonai Echad…
Dengarlah, hai  Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa
(Deuteronomy/Ulangan 6:4)

Kalimat itu adalah dasar pengenalan kita akan Tuhan, Merupakan deklarasi tentang esanya Tuhan kita. Dia adalahj echad (אחד), yaitu satu dan tunggal.

Dalam tradisi rabbinical, para shema itu ditambah dengan
ברוך שם כבוד מלכותו לעולם ועד
Baruch Shem k’vod malchuto l’olam vaed
(Terpujilah Nama kerajaan-Nya yang mulia kekal selamanya).

Kemudian dilanjutkan dengna Detuteronomy/Ulangan 6: 5
ואהבת את יהוה אלהיך בכל־לבבך ובכל־נפשׁך ובכל־מאדך
V’ahav’ta et Adonai Eloheicha b’kol l’vav’cha uv’kol naf’shecha uv’kol m’odecha
(Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.).

Menariknya adalah di dalam Mark/Markus 12:29-30, ketika orang Farisi bertanya pada Tuhan Yesus manakah perintah Tuhan yang paling utama, Tuhan Yesus menjawab dengan lugas dari Deuteronmy/Ulangan 6:4-5 yang merupakan deklarasi Shema tadi, yaitu
“Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”

Mari kita lihat arti kata echad di dalam bahasa Ibrani.
Echad artinya adalah satu dalam sebuah kesatuan. Bukan satu yang tunggal, atau solitary. Kata satu yang cuma satu dan sendiri itu dalam bahasa Ibrani adalah  yachid (יחיד). Ke-esa-an Tuhan adalah DIA sebagai satu kesatuan yang kompleks yang memiliki 3 peran utama: sebagai Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Kata yang menurut saya lebih tepat untuk menggambarkan Bapa, Putra dan Roh Kudus ini adalah peran dari Tuhan dalam ke-esaannya dan keagungannya yang kudus. Tuhan adalah Bapa, DIA adalah Bapa yang menciptakan dunia ini, dan Tuhan juga adalah Yesus Kristus yang menebus dosa manusia dan Tuhan adalah Roh Kudus yang  tinggal dan menetap di dalam diri kita.

Kalau diilustrasikan seperti manusia, maka peran ini adalah sama seperti kita (misalnya para bapak) yang punya peran sebagai ayah dari anak-anaknya, sekaligus juga sebagai anak dari sebagai ayahnya dan juga sebagai menantu dari orang tua istrinya.

Perbedaaannya dengan Tuhan adalah, Tuhan turun ke dunia mengambil rupa manusia, menjadi anak namun DIA tetap berada di surga sebagai bapak. Sekarang pun Tuhan Yesus dan Allah Bapa berada di Surga menjadi satu, dan Roh Kudus ada di dalam setiap kita.
Itu perbedaan paling luar biasa antara kita manusia dengan Tuhan. Menunjukkan kita tidak bisa berada di banyak tempat sekaligus, tapi Tuhan sanggup.
Coba kalao ada 3 orang manggil kita, katakan istri kita memanggil kita dan anak kita memanggil kita kemudian orang tua kita memanggil kita pada saat yang berbarengan. Pasti kita akan menjawab panggilan itu satu persatu. Ga mungkin kita bisa menjawab ketiga panggilan itu sekaligus dan melayani permintaan ketiga orang itu sekaligus. Paling kita cuma bisa bilang, “sebentar, tangan saya cuma dua. Satu persatu.”

Sedangkan Tuhan sanggup meladeni miliaran manusia oleh karena kuasa-NYA yang luar biasa.

Makanya Charles Spurgeon (1834-1892), berkata bahwa, ” Makin saya mengenal Tuhan, saya  makin tahu satu hal penting, yaitu: DIA Tuhan, dan saya bukan.”

Ya.
DIA Tuhan dan kita bukan. Kalau kita bandingkan betapa agung dan mulia-NYA kuasa Tuhan, kita pasti akan sangat menghargai kekudusan Tuhan. Kekudusan yang begitu disegani dan (malah) ditakuti oleh orang Israel hingga saat ini. Mereka begitu menjunjung tinggi Tuhan dan perintahn-NYA hingga mereka menerapkan perintah pertama dari 10 perintah Tuhan: “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan.” dengan tidak menuliskan nama Tuhan secara penuh. Mereka menulis God dengan menghilangkan huruf “o”menjadi G-d.
Itu makanya ketika Petrus di Lukas 5:8 menyadari bahwa Yesus yang  nebeng di perahunya adalah Tuhan, ia berkata ” “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Oleh karena Petrus tahu, jika ia mendekat maka kekudusan Tuhan akan menyebabkan dia menemui kematian. 

Orang Ibrani/Yahudi  begitu takut akan Tuhan dan ini sudah tertanam di dalam diri mereka sejak kecil. Pada saat umur 13 tahun (laki-laki) dan 12 tahun (perempuan) mereka akan mengikuti ritual Bar Mitzvah (untuk anak laki-laki) dan Bat Mitzvah (untuk anak perempuan). Di mana dalam  Oleh karena itu di dalam ritual ini, mereka menyatakan diri menjunjung tinggi perintah Tuhan secara pribadi dan bertanggung jawab untuk menjunjung tinggi perintah Tuhan. Dalam acara itu mereka diperkenalkan pada komunitas mereka. Sebelum Bar/Bat Mizvah, mereka belajar tentang perintah-perintah Tuhan selama lebih kurang setahun dibimbing oleh Rabbi (guru).

Kita setuju bahwa Yesus adalah Messiah/Juru selamat yang dikirim untuk orang Yahudi terlebih dulu dan kemudian kepada bangsa-bangsa (Roma 1:16).
Oleh karena itu dasar seluruh pengenalan akan Tuhan dan bayangan akan Tuhan sudah lebih dahulu dikenal oleh orang Yahudi/Israel.  Hanya kepada bangsa Israel saja Tuhan menunjukkan kuasa-NYA dan wajah-NYA. Sedang tidak pada bangsa lain. Oleh karena itu Messiah yang adalah Tuhan sendiri turun di bangsa Israel. Tuhan sama sekali tidak pernah mencabut keputusan-NYA bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan-NYA. Bangsa yang dia nurtur sendiri, kulitvasi sendiri dan DIA jaga hingga sekarang.

Satu surat Paulus yang sering disalahtafsirkan dan menimbulkan istilah “Israel rohani” yang terus terang saya bilang ngawur adalah di dalam Roma 2:29

On the contrary, the real Jew is one inwardly;
and true circumcision is of the heart, spiritual not literal;
so that his praise comes not from other people but from God.
(CJB)

dalam bahasa Indonesia:

Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya
dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah.
Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah
(ITB)

Mari kita lihat ke dalam tulisan aslinya dalam bahasa Yunani-nya kalimat yang digaris tebal
περιτομη καρδιας εν πνευματι (peritome kardia et pneuma).
Secara literal, artinya adalah sunat (peritome) jantung (kardia) dan paru-paru (pneuma). Yaitu adalah jantung yang  berdetak dan paru-paru yang berdenyut menyembah Tuhan.
Itu berarti orang Yahudi sejati (ιουδαιος=Iudaios) adalah orang yang memiliki  rasa takut akan Tuhan seperti orang Yahudi.  Paulus mengingatkan orang bahwa orang Yahudi itu punya rasa takut akan Tuhan dan jantung serta paru-paru mereka disunat.

Ini juga bicara penggenapan Jeremiah 31:31-33, dimana Tuhan membuat perjanjian baru dengan Israel dan Yehuda di mana ia akan menulis perjanjian baru tersebut di hati setiap orang. Dengan adanya Roh Kudus di dalam kita, maka hukum Tuhan ada tertulis di dalam hati kita semua. Sekaligus menggenapi hukun Taurat seperti yang Tuhan Yesus katakan bahwa ia datang untuk menggenapi hukum Taurat bukan menghapuskan hukum Taurat (Matthew/Matius 5:17-19).
Tidak satu titik dan iota pun di dalam hukum Taurat dihapuskan. Dengan kedatangan Tuhan Yesus menebus dosa kita dan mengembalikan kita kepada tujuan semula penciptaan kita, maka hukum Taurat Tuhan tertulis di dalam hati kita. Segala penghalang antara kita dengan Tuhan sudah disobek di dalam Kristus  Yesus.

Satu yang kita harus ingat, seperti kata Charles Spurgeon, bahwa DIA tetap Tuhan dan kita bukan. Juga seperti ucapan Shema, bahwa DIA adalah satu yang kompleks dalam Bapa, Putra dan Roh Kudus. 

Amein.